Langsung ke konten utama

Berdoalah Untuk Urusan Apapun, Bahkan Untuk Garam dan Sendal Jepit Sekalipun

-Review Buku-
.
Judul : Berdoalah Untuk Urusan Apapun
Penulis : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim
penerbit: Pro-U Media, 2017; 236 Halaman
.

Hakikat manusia dia selalu perlu sandaran, tidak dapat dinafikan bahwa dia tidak bisa sendirian.
Bahkan saat merasa diri kuat sekalipun, nyatanya tetaplah lemah.

Lantas sangat patut sekali apabila seorang Muslim bersyukur dalam ke-muslimannya, bersyukur telah berada dalam naungan Islam Rahmatan Lil A'lamin.
Karena hendaknya telah bersemayam keimanan dalam jiwanya, bahwa dia punya Allah SWT yang tidak pernah sedetikpun melepaskan hamba-Nya.

Kehadiran buku ini menjadi penguat jiwa, penggugah iman -yang naik dan turun- agar senantiasa selalu menggantungkan harap, memanjatkan doa kepada Rabb Sang Pencipta alam, dalam setiap urusan apapun, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun.

Tidak ada hal kecil atau remeh di mata Nya. "Hendaklah salah seorang dari kalian senantiasa meminta kebutuhannya kepada Rabbnya, sampai pun ketika meminta garam, sampai pun meminta tali sandalnya ketika putus."
(HR. Tirmidzi)
Hal. 70

Lebih jauh dari itu semua, dalam buku ini begitu lembut dalam membahas berbagai adab dalam berdoa kepadaNya.
Adab dalam meminta, memohon, agar setiap pengharapan hambaNya dikabulkan dalam bentuk sebaik-baiknya.
. "Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"
(QS: Al Araf: 55)
Hal. 10
.
Akhir kata, semoga kita senantiasa dapat selalu meminta, memohon dan berdoa dalam urusan apapun hanya kepadaNya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dakwah Tidak Pernah Membutuhkanmu!

Ya. Dakwah tidak pernah membutuhkan keberadaanmu. Entah kamu di sini atau jauh di sana, dakwah tidak pernah peduli. Entah kamu bergiat dalam seruan dakwah atau minggat dari panggilan daurah, keberlangsungan dakwah tidak pernah terpengaruh. Dakwah tetap akan ada, bersama orang-orang yang punya mimpi yang sama. Iya yang mundur teratur, atau akhirnya futur dan hilang tanpa pernah lagi datang hanya akan mengalami kerugian besar, karena dakwah akan selalu ada, dengan atau tanpa adanya dirimu. Semangat-semangat dakwah akan terus bergulir, meski dirimu tak lagi hadir. Kemudian engkau hanya bisa melihat dari sudut tempatmu berdiri, memandang para pejuang dakwah yang dulu, engkau pernah di sana. Tetapi, jujurlah barang sejenak. Bahwa engkau sebenarnya rindu tentang semua hal yang pernah dilalui, berlelah-lelah bersama mereka yang sederhana namun bersahaja. Tapi ego begitu erat menahanmu untuk pergi kesana. Sekali lagi, dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tet...

Tambal-Menambal.

Sore ini aku beranjak pulang lebih lama 1 jam dari beberapa hari yg lalu. Sebenarnya biasa saja, toh pulang hampir berganti hari juga pernah. Hanya bedanya, kali ini aku sedang rajin-rajin nya menambal kecerobohan diri soal amanah. Mencoba menyulam lagi yang telah koyak. Meski terlambat, setidaknya lubangnya tidak makin banyak kan? Kita. Eh tidak, mungkin, aku saja. Telah lalai bahwa dibalik suksesnya pencapaian sebuah tim, tetap ada hisab tentang amanah perorangan. Akan ditanya soal bagaimana kamu menyelesaikan amanah pribadimu? Meski telah diraih suksesi, tetapi pertanggungjawaban tetap atas nama pribadi. Betapa telah lalainya diri ini.