Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Tuhan, Semoga Engkau Setuju…

“Ya Allah, semoga Engkau setuju bahwa saya sudah cukup usia untuk mengemban tanggung jawab lebih. Bukan hanya bertanggung jawab kepada diri saya, tapi juga kepada seseorang yang Engkau percayai kepada saya hatinya, entah siapa dia.. ” (Kutipan Buku #Berhentidikamu karya dr. Gia Pratama) Tuhan.. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu, tentang setiap goresan takdir terbaik bagi setiap mahluk di semesta ini. Tentang kadar rezekinya yang telah Engkau atur, tentang Qadha dan Qadarnya yang telah Engkau rencanakan. Juga tentang siapa, kapan dan bagaimana seorang hamba-Mu   menemukan orang yang akan menemani kesendiriannya dalam   taat, dalam sebuah ikatan yang Engkau ridha pada mereka, dan tentang bagaimana kesudahan akhir hayat setiap manusia. Tuhan, semoga Engkau setuju… Bahwa gemerlapnya dunia kadangkala mengusik keimanan, bahwa indahnya kehidupan sementara ini memberikan banyak cobaan dan ujian. Semoga Engkau juga setuju, bahwa hamba begitu rapuh dalam menjanlai setiap f...

Aku Tidak Mau Mundur, Hatiku Keras Kepala

Dalam menyusuri setiap perjalanan, tiap-tiap dari kita akan bertemu dengan berbagai macam rintangan. Mungkin sesekali akan terasa sakit, patah dikecewakan dunia, bahkan rasa-rasanya mau menyerah saja. Tapi Hei… kamu tidak secemen itu kok. Bukankah pernah melewati masa-masa yang lebih meragukan seakan tiada jalan keluar di depan? Tapi nyatanya kamu baik-baik saja sampai hari ini. Yang terasa berat saat ini, pada masa depan nanti mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak atas kekonyolan sikap dan perasaan yang terjadi hari ini. Tersebab itu, selalu tanamkan segenap yakin pada Allah yang akan membimbing. Tiada satu helai daun pun jatuh tanpa kehendak-Nya. Luar biasa bukan? Apalagi mengurusi mahluk tak berdaya seperti kamu.. ishh.. mudah sekali bagi Allah. Karena itu aku tidak mau mundur, hatiku keras kepala, bahwa semua rintangan bisa untuk dilewati selama tidak pernah berlepas pegang pada-Nya. Aku jumawa ya? Hahaha.. Bandung, di rorompok Ema-Apa

Dakwah Tidak Pernah Membutuhkanmu!

Ya. Dakwah tidak pernah membutuhkan keberadaanmu. Entah kamu di sini atau jauh di sana, dakwah tidak pernah peduli. Entah kamu bergiat dalam seruan dakwah atau minggat dari panggilan daurah, keberlangsungan dakwah tidak pernah terpengaruh. Dakwah tetap akan ada, bersama orang-orang yang punya mimpi yang sama. Iya yang mundur teratur, atau akhirnya futur dan hilang tanpa pernah lagi datang hanya akan mengalami kerugian besar, karena dakwah akan selalu ada, dengan atau tanpa adanya dirimu. Semangat-semangat dakwah akan terus bergulir, meski dirimu tak lagi hadir. Kemudian engkau hanya bisa melihat dari sudut tempatmu berdiri, memandang para pejuang dakwah yang dulu, engkau pernah di sana. Tetapi, jujurlah barang sejenak. Bahwa engkau sebenarnya rindu tentang semua hal yang pernah dilalui, berlelah-lelah bersama mereka yang sederhana namun bersahaja. Tapi ego begitu erat menahanmu untuk pergi kesana. Sekali lagi, dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tet...

Pada akhirnya, kita akan menemukan terminasi masing-masing.

Tentu dengan kuasaNya, entah kita akan dapat bertemu lagi atau tid ak. Tetapi satu hal yang harus menjadi patokan, bahwa masing-masing dari kita harus tumbuh dan berkembang semakin lebih baik setiap harinya. Kita hanya tidak bersepakat dalam hal yang sebenarnya dapat dicari jalan tengahnya. Tapi itulah sekanario dari Allah Azza Wajala. Setiap perguliran episode kehidupan sudah ada dalam genggamanNya. Tugas kita sebagai hamba adalah tentang bagaimana terus bersabar dalam menapaki jejak takdirnya, bersimpuh dalam taubat atas dosa-dosa yang dilakukan, berikhtiar dengan sebenar-benarnya usaha, dan tawakal dalam sebaik-baiknya pengharapan. Di manapun akhirnya Allah Swt. hendak melabuhkan kita, pastikan itu adalah jalan dakwah yang sedang kita telusuri. Dengan siapapun pada akhirnya Allah Swt, menghendaki pendamping perjalanan panjang nan melelahkan itu, pastikan bahwa dengan berdampingan, masing-masing dari kita akan semakin kuat dan menguatkan. Biarlah apa yang pernah...

Tambal-Menambal.

Sore ini aku beranjak pulang lebih lama 1 jam dari beberapa hari yg lalu. Sebenarnya biasa saja, toh pulang hampir berganti hari juga pernah. Hanya bedanya, kali ini aku sedang rajin-rajin nya menambal kecerobohan diri soal amanah. Mencoba menyulam lagi yang telah koyak. Meski terlambat, setidaknya lubangnya tidak makin banyak kan? Kita. Eh tidak, mungkin, aku saja. Telah lalai bahwa dibalik suksesnya pencapaian sebuah tim, tetap ada hisab tentang amanah perorangan. Akan ditanya soal bagaimana kamu menyelesaikan amanah pribadimu? Meski telah diraih suksesi, tetapi pertanggungjawaban tetap atas nama pribadi. Betapa telah lalainya diri ini.

Berdoalah Untuk Urusan Apapun, Bahkan Untuk Garam dan Sendal Jepit Sekalipun

-Review Buku- . Judul : Berdoalah Untuk Urusan Apapun Penulis : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim penerbit: Pro-U Media, 2017; 236 Halaman . Hakikat manusia dia selalu perlu sandaran, tidak dapat dinafikan bahwa dia tidak bisa sendirian. Bahkan saat merasa diri kuat sekalipun, nyatanya tetaplah lemah. Lantas sangat patut sekali apabila seorang Muslim bersyukur dalam ke-muslimannya, bersyukur telah berada dalam naungan Islam Rahmatan Lil A'lamin. Karena hendaknya telah bersemayam keimanan dalam jiwanya, bahwa dia punya Allah SWT yang tidak pernah sedetikpun melepaskan hamba-Nya. Kehadiran buku ini menjadi penguat jiwa, penggugah iman -yang naik dan turun- agar senantiasa selalu menggantungkan harap, memanjatkan doa kepada Rabb Sang Pencipta alam, dalam setiap urusan apapun, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun. Tidak ada hal kecil atau remeh di mata Nya. "Hendaklah salah seorang dari kalian senantiasa meminta kebutuhannya kepada Rabbnya, sampai pun ketika...