Langsung ke konten utama

Pada akhirnya, kita akan menemukan terminasi masing-masing.


Tentu dengan kuasaNya, entah kita akan dapat bertemu lagi atau tidak.

Tetapi satu hal yang harus menjadi patokan, bahwa masing-masing dari kita harus tumbuh dan berkembang semakin lebih baik setiap harinya.
Kita hanya tidak bersepakat dalam hal yang sebenarnya dapat dicari jalan tengahnya. Tapi itulah sekanario dari Allah Azza Wajala.

Setiap perguliran episode kehidupan sudah ada dalam genggamanNya. Tugas kita sebagai hamba adalah tentang bagaimana terus bersabar dalam menapaki jejak takdirnya, bersimpuh dalam taubat atas dosa-dosa yang dilakukan, berikhtiar dengan sebenar-benarnya usaha, dan tawakal dalam sebaik-baiknya pengharapan.

Di manapun akhirnya Allah Swt. hendak melabuhkan kita, pastikan itu adalah jalan dakwah yang sedang kita telusuri.
Dengan siapapun pada akhirnya Allah Swt, menghendaki pendamping perjalanan panjang nan melelahkan itu, pastikan bahwa dengan berdampingan, masing-masing dari kita akan semakin kuat dan menguatkan.

Biarlah apa yang pernah terjadi sebagai bahan pelajaran untuk mendewasakan diri. Barangkali dengan peristiwa yang pernah kita lalui, mampu membuka mata hati yang selama ini berpandangan sempit. Mampu membuka wawasan yang lebih luas soal perbedaan, dan tentu yang terpenting adalah mampu mendatangkan hikmah agar hidup menjadi lebih baik setiap harinya.

Semoga masing-masing dari kita tetap Allah bantu untuk istiqomah berada dalam jalan dakwah, kendati jalan dakwah itu luas dan banyak sekali lahan yang dapat digarap.
Semoga sedikit perbedaan pandangan tidak lantas menjadikan kita jumawa pada diri sendiri, apalagi 
merasa paling benar bersama jama’ah tempat bernaung diri.

Karena sejatinya ilmu Allah itu teramat luas, tidaklah mampu kita yang penuh alfa ini untuk memikulnya sendirian.

Maka, mari kita saling bersama-sama membuka cakrawala pengetahuan, membuka banyak sudut pandang tentang hakikat hidup dan penghambaan terhadapNya.
Waullahua’lam bishowab.

Bandung, Sepulang hari itu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dakwah Tidak Pernah Membutuhkanmu!

Ya. Dakwah tidak pernah membutuhkan keberadaanmu. Entah kamu di sini atau jauh di sana, dakwah tidak pernah peduli. Entah kamu bergiat dalam seruan dakwah atau minggat dari panggilan daurah, keberlangsungan dakwah tidak pernah terpengaruh. Dakwah tetap akan ada, bersama orang-orang yang punya mimpi yang sama. Iya yang mundur teratur, atau akhirnya futur dan hilang tanpa pernah lagi datang hanya akan mengalami kerugian besar, karena dakwah akan selalu ada, dengan atau tanpa adanya dirimu. Semangat-semangat dakwah akan terus bergulir, meski dirimu tak lagi hadir. Kemudian engkau hanya bisa melihat dari sudut tempatmu berdiri, memandang para pejuang dakwah yang dulu, engkau pernah di sana. Tetapi, jujurlah barang sejenak. Bahwa engkau sebenarnya rindu tentang semua hal yang pernah dilalui, berlelah-lelah bersama mereka yang sederhana namun bersahaja. Tapi ego begitu erat menahanmu untuk pergi kesana. Sekali lagi, dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tet...

Tambal-Menambal.

Sore ini aku beranjak pulang lebih lama 1 jam dari beberapa hari yg lalu. Sebenarnya biasa saja, toh pulang hampir berganti hari juga pernah. Hanya bedanya, kali ini aku sedang rajin-rajin nya menambal kecerobohan diri soal amanah. Mencoba menyulam lagi yang telah koyak. Meski terlambat, setidaknya lubangnya tidak makin banyak kan? Kita. Eh tidak, mungkin, aku saja. Telah lalai bahwa dibalik suksesnya pencapaian sebuah tim, tetap ada hisab tentang amanah perorangan. Akan ditanya soal bagaimana kamu menyelesaikan amanah pribadimu? Meski telah diraih suksesi, tetapi pertanggungjawaban tetap atas nama pribadi. Betapa telah lalainya diri ini.