Langsung ke konten utama

Aku Tidak Mau Mundur, Hatiku Keras Kepala




Dalam menyusuri setiap perjalanan, tiap-tiap dari kita akan bertemu dengan berbagai macam rintangan. Mungkin sesekali akan terasa sakit, patah dikecewakan dunia, bahkan rasa-rasanya mau menyerah saja.

Tapi Hei… kamu tidak secemen itu kok.
Bukankah pernah melewati masa-masa yang lebih meragukan seakan tiada jalan keluar di depan? Tapi nyatanya kamu baik-baik saja sampai hari ini.

Yang terasa berat saat ini, pada masa depan nanti mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak atas kekonyolan sikap dan perasaan yang terjadi hari ini.
Tersebab itu, selalu tanamkan segenap yakin pada Allah yang akan membimbing. Tiada satu helai daun pun jatuh tanpa kehendak-Nya. Luar biasa bukan? Apalagi mengurusi mahluk tak berdaya seperti kamu.. ishh.. mudah sekali bagi Allah.

Karena itu aku tidak mau mundur, hatiku keras kepala, bahwa semua rintangan bisa untuk dilewati selama tidak pernah berlepas pegang pada-Nya.
Aku jumawa ya? Hahaha..


Bandung, di rorompok Ema-Apa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dakwah Tidak Pernah Membutuhkanmu!

Ya. Dakwah tidak pernah membutuhkan keberadaanmu. Entah kamu di sini atau jauh di sana, dakwah tidak pernah peduli. Entah kamu bergiat dalam seruan dakwah atau minggat dari panggilan daurah, keberlangsungan dakwah tidak pernah terpengaruh. Dakwah tetap akan ada, bersama orang-orang yang punya mimpi yang sama. Iya yang mundur teratur, atau akhirnya futur dan hilang tanpa pernah lagi datang hanya akan mengalami kerugian besar, karena dakwah akan selalu ada, dengan atau tanpa adanya dirimu. Semangat-semangat dakwah akan terus bergulir, meski dirimu tak lagi hadir. Kemudian engkau hanya bisa melihat dari sudut tempatmu berdiri, memandang para pejuang dakwah yang dulu, engkau pernah di sana. Tetapi, jujurlah barang sejenak. Bahwa engkau sebenarnya rindu tentang semua hal yang pernah dilalui, berlelah-lelah bersama mereka yang sederhana namun bersahaja. Tapi ego begitu erat menahanmu untuk pergi kesana. Sekali lagi, dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tet...

Tambal-Menambal.

Sore ini aku beranjak pulang lebih lama 1 jam dari beberapa hari yg lalu. Sebenarnya biasa saja, toh pulang hampir berganti hari juga pernah. Hanya bedanya, kali ini aku sedang rajin-rajin nya menambal kecerobohan diri soal amanah. Mencoba menyulam lagi yang telah koyak. Meski terlambat, setidaknya lubangnya tidak makin banyak kan? Kita. Eh tidak, mungkin, aku saja. Telah lalai bahwa dibalik suksesnya pencapaian sebuah tim, tetap ada hisab tentang amanah perorangan. Akan ditanya soal bagaimana kamu menyelesaikan amanah pribadimu? Meski telah diraih suksesi, tetapi pertanggungjawaban tetap atas nama pribadi. Betapa telah lalainya diri ini.