Langsung ke konten utama

Tuhan, Semoga Engkau Setuju…




“Ya Allah, semoga Engkau setuju bahwa saya sudah cukup usia untuk mengemban tanggung jawab lebih. Bukan hanya bertanggung jawab kepada diri saya, tapi juga kepada seseorang yang Engkau percayai kepada saya hatinya, entah siapa dia.. ”
(Kutipan Buku #Berhentidikamu karya dr. Gia Pratama)

Tuhan.. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu, tentang setiap goresan takdir terbaik bagi setiap mahluk di semesta ini. Tentang kadar rezekinya yang telah Engkau atur, tentang Qadha dan Qadarnya yang telah Engkau rencanakan. Juga tentang siapa, kapan dan bagaimana seorang hamba-Mu  menemukan orang yang akan menemani kesendiriannya dalam  taat, dalam sebuah ikatan yang Engkau ridha pada mereka, dan tentang bagaimana kesudahan akhir hayat setiap manusia.

Tuhan, semoga Engkau setuju… Bahwa gemerlapnya dunia kadangkala mengusik keimanan, bahwa indahnya kehidupan sementara ini memberikan banyak cobaan dan ujian.
Semoga Engkau juga setuju, bahwa hamba begitu rapuh dalam menjanlai setiap fase kehidupan ini, sehingga tanpa-Mu apa jadinya  aku?

Bandung, gerimis malem-malem

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dakwah Tidak Pernah Membutuhkanmu!

Ya. Dakwah tidak pernah membutuhkan keberadaanmu. Entah kamu di sini atau jauh di sana, dakwah tidak pernah peduli. Entah kamu bergiat dalam seruan dakwah atau minggat dari panggilan daurah, keberlangsungan dakwah tidak pernah terpengaruh. Dakwah tetap akan ada, bersama orang-orang yang punya mimpi yang sama. Iya yang mundur teratur, atau akhirnya futur dan hilang tanpa pernah lagi datang hanya akan mengalami kerugian besar, karena dakwah akan selalu ada, dengan atau tanpa adanya dirimu. Semangat-semangat dakwah akan terus bergulir, meski dirimu tak lagi hadir. Kemudian engkau hanya bisa melihat dari sudut tempatmu berdiri, memandang para pejuang dakwah yang dulu, engkau pernah di sana. Tetapi, jujurlah barang sejenak. Bahwa engkau sebenarnya rindu tentang semua hal yang pernah dilalui, berlelah-lelah bersama mereka yang sederhana namun bersahaja. Tapi ego begitu erat menahanmu untuk pergi kesana. Sekali lagi, dakwah tidak pernah membutuhkanmu, tet...

Tambal-Menambal.

Sore ini aku beranjak pulang lebih lama 1 jam dari beberapa hari yg lalu. Sebenarnya biasa saja, toh pulang hampir berganti hari juga pernah. Hanya bedanya, kali ini aku sedang rajin-rajin nya menambal kecerobohan diri soal amanah. Mencoba menyulam lagi yang telah koyak. Meski terlambat, setidaknya lubangnya tidak makin banyak kan? Kita. Eh tidak, mungkin, aku saja. Telah lalai bahwa dibalik suksesnya pencapaian sebuah tim, tetap ada hisab tentang amanah perorangan. Akan ditanya soal bagaimana kamu menyelesaikan amanah pribadimu? Meski telah diraih suksesi, tetapi pertanggungjawaban tetap atas nama pribadi. Betapa telah lalainya diri ini.